Pemuda "Handsome"

Hari ini bila orang menyebut "pemuda ganteng" besar kemungkinan pikiran selanjutnya adalah seorang artis jago nyanyi dan akting, atau seorang olah ragawan yang biasa tampil di medan pertandingan, atau peragawan yang melenggang lenggok di atas pentas yang ditonton orang ramai.Lanjutkan bacanya ya.

Berawal Dari Mimpi

Sebuah rencana meraih cita-cita,rencana menggapai mimpi yang tak terhingga,mimpa apakah itu??,read more.

MMI Production

Video kajian ahad pagi yg diproduksi oleh MMI Isykarima. Apa sih MMI itu? monggo dibaca sekilas infonya.^^.

Pilih Cara Matimu

Kisah yg tak bosan-bosannya admin baca. Kisah apa itu??? bacalah,semoga kembali ingat dan istiqomah.

Rahasia Ustadz Kita

Menjadi besar dan hebat seperti ulama' terdahulu pasti ada rahasianya kan. Begitu juga dengan ust yg satu ini. mau tahu siapa dan apa rahasianya. Klik di foto ^^

Mencetak hafidz yg Ilmuwan

Berikut hasil investigasi yg dimuat dimajalah isra UII,mau baca,klik disini.

Rabu, 07 November 2012

MMI Production



Hari yg baik untuk semua. Assalamu'alaikum.
Ikhwah fillah,semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu WaTa'ala. 
Kali ini mas admin mau berbagi video produksi MMI . 
salah satu kru MMI yg sedang bertugas
Barusan tahu klo kru MMI punya akun di youtube. Jadi ga ketinggalan informasi dan kajian ilmu. hmmm,eh pasti pada bertanya-tanya. MMI itu singkatan dari apa sih??? kok mirip nama organisasi islam yg terkenal itu ya?. Ya memang sengaja dibuat mirip,biar gampang penyebutan dan diingat. MMI adalah singkatan dari Multi Media Isykarima. Bermarkas di rumah mungil putih disamping kanan masjid. Semua produksi film dan rekaman tentang isykarima ada di situ. Produksinya udah banyak lho. Cuma memang gak terpublikasi saja. dan berikut adalah sedikit hasil produksi dari Studio MMI 2 menara. 

Bayangkan saja,berapa banyak produksi yg lain yg belum terpublikasi. Video diatas adalah kajian ahad pagi,dan selalu direkam. Kajian ahad pagipun sudah berjalan hampir  3 tahunan atau lebih (lupa awalnya :) ). blum juga tausiah2 yg lainnya. ya kita tunggu saja kru MMI berbagi lagi video-video kajian terbaiknya. Bagi yg memiliki akun youtube ,silahkan di Subscribe akun MMI di youtube. Biar ga ketinggalan Update. Saran tambahan: siapin idm untuk mendownload,soalnya video ini panjang dan besar. jadi lebih baik didownload sehingga bisa disimpan dan dinikmati kapan saja.

Kamis, 01 November 2012

Ya Rosullalah (Nasyeed)

Nasyidnya raihan (cuman suaranya santri 2 menara)
kok kedengarannya merdu,jadi saya share. klo ga merdu bilang ae,ntar tak hapusnya...hehehehe.


Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu
Ya rasulullah ya habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya rasulullah ya habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma solli ala Muhammad
Ya rabbi solli alaihi wasallim ( 2x )
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya Tuhan saja yang tahu
Kutahu cintamu kepada umat
Umati kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Ya rasulullah ya habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya rasulullah ya habiballah
Kurniakanlah syafaatmu

vokal by: Yusuf NAK

Pilih Cara Matimu

Kalau yg baca para Penghafal Alquran,pasti merinding,cemas,harap. Lha yg mosting aja begitu. Walaupun sudah sering baca,minimal masuk katagori tadzkiroh,murojaah. Biar kita selalu istiqomah.

Simak kisah berikut, dan ambillah pelajaran dari nya.
Salah seorang pekerja pemantau lalu lintas bercerita :
“Tiba – tiba kami mendengar suara tabrakan yang kuat, ternyata sebuah mobil yang menabrak mobil yang lain nya. Ini merupakan sebuah kecelakaan yang sulit untuk digambarkan, karena ada dua orang dalam keadaan sangat parah. Kemudian kami mengeluarkan dan membaringkan mereka ditepi jalan. Lalu kami berusaha mengeluarkan pemilik mobil yang satunya, tetapi kami menemukan nya telah meninggal dunia.
Kemudian kami kembali kepada kedua orang tadi, dan ternyata kami menemukan mereka dalam keadaan sekarat, maka dengan segera teman ku men-talqin-kan kepadanya kalimat Syahadat. Tetapi lidah kedua orang tersebut justru malah melantunkan nyanyian. Keadaan ini semakin membuat ku merinding, tetapi temanku berlaku sebaliknya, ia terus men-talqin-kan kalimat syahadat kepada mereka berdua karena ia mengetahui bagaimana seharusnya bersikap terhadap keadaan yang demikian. Namun demikian, usaha teman ku itu sia-sia, mereka berdua terus melantunkan nyanyian-nyanyian, dan semakin lama suara lantunan mereka semakin melemah. Kemudian orang yang pertama diam lalu di ikuti dengan orang yang kedua hingga akhirnya mereka pun menghembuskan nafas nya yang terakhir.
Lantas ia (taman ku) berkata : “Aku belum pernah menyaksikan kejadian yang seperti ini dalam hidupku.”
“Kemudian kami membawa mereka berdua dengan mobil. Teman ku berkata : “Sesungguhnya manusia itu mengakhiri hidupnya dengan kebaikan atau keburukan tergantung dengan keadaan lahir dan batin nya.”
Maka aku pun takut dengan kematian, aku banyak mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan melakukan shalat pada hari itu dengan khusyu’.
Berselang beberapa waktu, terjadi lagi sebuah kecelakaan yang sangat mengherankan pula yang menimpa seseorang yang mengendarai mobil dengan kecepatan yang biasa.
Pada waktu itu, mobilnya sedang dalam keadaan rusak karena terperosok pada sebuah terowongan yang menuju kearah kota. Ia pun turun dari mobilnya untuk memperbaiki kerusakan pada salah satu ban, kemudian secara tiba-tiba datang sebuah mobil yang melaju dengan kencang, dan menabraknya dari belakang lalu ia terjatuh dengan luka yang cukup parah. Kemudian kami membawanya dengan mobil lalu menghubungi rumah sakit.
Ia adalah seorang pemuda yang masih berusia beliau. Seorang yang berpegang teguh dengan agamanya yang dapat terlihat jelas dari penampilan nya dan ketika kami membawanya kami mendengar bergumam, tetapi kami tidak bisa mengerti apa yang sedang ia katakan. Namun ketika kami meletakkan nya didalam mobil dan berjalan (menuju rumah sakit), maka barulah kami dapat mendengar nya dengan jelas. Ternyata ia sedang melantunkan Al-Qur’an dengan suara lemah. Subhanallah.
Dia terlihat melakukan hal tersebut ketika dalam keadaan kritis. Ia terus melantunkan al-Quran dengan suara yang indah dan tiba-tiba ia terdiam. Kemudian aku menoleh ke belakang dan ternyata dia sedang mengangkat jari telunjuknya sambil bersyahadat kemudian kepalanya tertunduk. Aku pun meloncat ke belakang, aku sentuh tangan nya, dadanya, nafasnya, tidak ada reaksi apa-apa, ternyata ia telah meninggal dunia.
Aku pun menatapnya dan meneteskan air mataku. Lalu aku memberitahukan teman ku bahwa ia telah meninggal dunia, maka teman ku pun menangis. Aku pun masih menangis terisak dan suasana didalam mobil menjadi sangat mengharukan sekali, hingga kami tiba dirumah sakit.
Kemudian kami memberitahukan kejadian nya kepada setiap orang yang kami temui. Banyak diantara mereka yang terharu dan ikut meneteskan air mata. Diantara mereka, ada yang setelah mendengar kisah pemuda tersebut, lalu pergi menghampirinya lalu mencium kening pemuda tersebut. Semua nya bersikeras untuk tetap duduk disana untuk menshalatkan nya. Salah seorang petugas menghubungi rumah pemuda ini dan pada saat itu, orang yang menerima telepon adalah saudara kandungnya.
Kemudian ia berkata tentang saudara nya itu : “Dia pergi setiap hari Senin untuk mengunjungi neneknya yang tinggal sendirian didesa dan dia selalu mencari para janda, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin (untuk bersedekah). Orang-orang didesa tersebut sangat mengenalnya dan ia juga selalu membaca buku-buku dan kaset-kaset, sedangkan mobilnya penuh dengan beras dan gula untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan hingga permen untuk anak-anak pun tidak dia lupakan.
Dia selalu menjawab jika ditanya tentang jauhnya jarak perjalanan yang dia tempuh “Sesungguhnya aku selalu mengambil manfaat dari jauhnya perjalanan dengan menghafal al-Quran dan mengulangnya, dan juga dengan kaset-kaset yang bermanfaat, sesungguhnya aku selalu memohon ganjaran pahala atas setiap langkah yang aku ayunkan.”
Salah seorang yang hadir disana berkata : “Dulu aku sering merasa bahwa diriku selalu terombang ambing tanpa arah di dalam kehidupan ini. Aku selalu dihempaskan oleh kebingungan dari segala arah karena waktu ku banyak yang kosong dan pengetahuan ku yang sedikit dan aku pada waktu itu sangat jauh sekali dari Allah.
Ketika kami menshalatkan pemuda tersebut, lalu kami menghadiri penguburan nya dan setelah pemuda itu memulai menjalani hari pertamanya diakhirat, maka aku seolah-olah mulai menjalani hari pertamaku didunia ini. Aku benar-benar telah bertaubat kepada Allah Yang Maha Esa.”
[Hikayat Min Suu' Al-Khatimah hal 37-38. Lihat, Agar Anak Mudah Menghafal al-Quran hal 181-184. Hamdan Hamud Al-Hajiri. cet Darus Sunnah]
Alangkah indahnya akhir kehidupan para ahli Qur’an, para penghafal al-Quran.Dan alangkah buruknya akhir kehidupan para ahli nyanyian.
Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan ahli al-Quran. Aamiin

Kamis, 11 Oktober 2012

Rahasia Ustadz Kita

Ketemu lagi kita fren. Sekarang disini kita mau membongkar rahasia ust kita. Yang mana rahasia ini membawa kepada sang ustadz mencapai tingkat pendidikan S3. Dan semua gelar sarjana didapat dengan beasiswa. hmmm mau tahu kan,Yap,beliau adalah Ust DR Mu’inudinillah Basri, MA . Kita akan sedikit mengungkap rahasia dr beliau nih. Rahasia ini datang dari ibunda beliau. Yuk,kita baca dgn seksama hasil wawancara ibunda ust Muin dgn majalah Hidayatullah. Semoga menjadi Inspirasi dan Penyemangat bersama.

Hj. Musa’adah : Kekuatan Doa dan Shalat Lail Ibu

ilustrasi
Sendirian mengantarkan delapan anaknya menjadi orang berilmu dan shalih. Salah seorang di antaranya bahkan menjemput syahid.
Hari itu, 30 tahun lalu, duka menyelimuti Musa’adah. Muhammad Basri, suaminya tercinta dipanggil Allah. Ia ditinggali enam orang anak dan bayi yang masih dalam kandungan (belakangan diketahui anak yang di dalam kandungan itu kembar dua). Status janda saja sudah menjadi beban tersendiri, apalagi ditambahi delapan anak yang masih kecil-kecil, jelas itu beban yang amat berat. Namun Sa’adah, demikian biasa dipanggil, tak ingin lama-lama larut dalam kesedihan. Bagaimanapun, kehidupan harus berjalan terus.
             Syukurnya, semasa hidupnya, Basri membuka toko kelontong di Kartasura Solo, Jawa Tengah untuk menafkahi keluarganya. Namun, setelah ia meninggal, toko itu lambat laun mengalami kemunduran hingga bangkrut. Sa’adah pun memboyong anak-anaknya ke Tempursari Solo, tanah kelahirannya.
Di Tempursari segala usaha dilakukan perempuan yang lahir 66 tahun lalu ini, mulai dari buka warung kecil-kecilan hingga tukang kredit pakaian. Selama menikah dengan Basri, Sa’adah hanya fokus dalam mengasuh dan merawat anak-anaknya. Kini, ia harus memeras keringat dan membanting tulang, demi buah hatinya.

Tiap malam ia mengadu kepada Allah Ta’ala agar diberi kemudahan dan ketabahan dalam menjalani hidupnya. Ia sadar, predikat janda masih dianggap sebelah mata oleh orang-orang sedesanya. Oleh karena itu, ia bertekad mengantarkan anak-anaknya meraih pendidikan setinggi-tingginya.
Dalam menjalankan usaha kreditan baju, Sa’adah mengaku hanya bermodal kejujuran dan amanah. “Kalau kita tidak jujur, rezeki itu tidak akan berkah. Saya hanya mencari keberkahan walaupun sedikit,” katanya.
Sa’adah bersyukur, ketika ditinggal suaminya, ia tidak memiliki hutang sepeser pun. Ia juga berusaha agar tidak berhutang, bagaimanapun sulitnya penghidupan yang ia hadapi. “Saya paling takut kalau punya hutang,” prinsipnya.

Doktor yang Hafidz Qur’an

DR Mu’inudinillah Basri, MA

Buah keteguhan hati dan kerja keras yang diiringi doa pada Sang Kuasa, akhirnya membuahkan hasil. Sa’adah mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi orang-orang berilmu. Dua di antaranya bahkan meraih gelar doktor, DR Mu’inudinillah Basri, MA (putra kedua) dan DR Setiawan Budi Utomo, MM (putra ketiga). “Alhamdulillah, semua ini berkat rahmat Allah. Kalau tidak, mana mungkin bisa. Apalagi kalau dihitung secara matematis,” ujarnya.
Rata-rata anak Sa’adah mendapatkan beasiswa ketika menempuh studi S1. Mu’in dan Budi bahkan dapat beasiswa hingga ke jenjang S3. Mu’in dapat beasiswa sejak di LIPIA Jakarta. Berbekal prestasinya yang mengagumkan, selalu peringkat pertama, ia ditawari melanjutkan studi S2 di Saudi Arabia. Tak hanya S2, di negeri petro dolar itu pula Mu’in mendapatkan gelar doktornya. Demikian pula dengan Budi, semua jenjang pendidikannya, mulai dari S1 hingga S3 ditempuh dengan mendapatkan beasiswa.

DR Setiawan Budi Utomo, MM
Sa’adah memang lebih mementingkan pendidikan agama bagi anak-anaknya ketimbang pendidikan umum. Anak-anaknya ia sekolahkan di madrasah dan pondok pesantren. “Sejak dulu saya bercita-cita punya anak-anak yang jadi ulama,” katanya.
Ia pun mengarahkan mereka supaya belajar secara serius dan sungguh-sungguh agar mendapatkan beasiswa. Sa’adah sadar akan kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Oleh karena itu, ia meminta anak-anaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar.
Selain itu, alasan lain yang membuatnya lebih memilih pendidikan pesantren ketimbang pendidikan umum adalah ingin melihat anak-anaknya bisa menghafal al-Qur’an. Setiap malam, ketika shalat Tahajjud, Sa’adah selalu berdoa agar anak-anaknya bisa jadi hafidz (penghapal al-Qur’an). Doa Sa’adah dikabulkan Allah, empat anaknya berhasil hapal al-Qur’an. Mereka adalah Mu’inudinillah Basri, Setiawan Budi Utomo, dan si kembar Ahmad Syaifuddin dan Ahmad Nurdin (almarhum). “Alhamdulillah, saya bersyukur karena doa saya dikabulkan,” ujar Sa’adah haru.

Menurut nenek tujuh belas cucu ini, hal terpenting yang ia tekankan pada anak-anaknya adalah tentang keseriusan dan kedisiplinan serta tidak melupakan shalat lima waktu. Hal inilah yang dapat mengundang rahmat dan berkah Allah Ta’ala.
Mujahid
Salah satu putra Sa’adah, Ahmad Nurdin menjemput syahid di bumi jihad, Ambon pada tahun l999. Nurdin berangkat ke Ambon ketika situasi sedang panas-panasnya, dimana pembantaian terhadap umat Islam tengah menjadi-jadi. Kuliahnya yang baru memasuki tahun kedua di LIPIA Jakarta, ia tinggalkan demi membela saudara sesama Muslim. “Ia meminta izin pada saya mau membantu orang Islam di Ambon,” tutur Sa’adah mengenang kepergian putra bungsunya itu.
Dan ternyata, itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Ahmad Nurdin. Di tengah berkecamuknya perang, Nurdin terkena tembakan di beberapa bagian tubuhnya; di dada, perut dan paha. Tak lama tertembus peluru, lajang yang suka menolong orang itu pun menjemput syahid dan langsung dimakamkan lengkap dengan pakaian yang ia kenakan, tanpa dikafani. “Bau tubuhnya harum ketika akan dimakamkan. Itu yang dituturkan teman-temannya pada saya,” kata Sa’adah.

Hal inilah yang menguatkan dan menabahkan hatinya hingga tidak terlalu larut dalam kesedihan. Kata Sa’adah, “Mati syahid adalah cita-cita tertinggi setiap orang beriman. Dan anak saya bisa meraihnya.” Salah satu hal yang selalu terkenang di hati Sa’adah akan putranya itu adalah keistikomahan Nurdin yang selalu menjalankan puasa Sunnah Senin-Kamis.
Sejak meletusnya kerusuhan di Ambon, Nurdin tidak pernah makan nasi. Ia hanya mengonsumsi sayuran. “Katanya, ia tidak mau makan nasi sebelum dapat memberikan bantuan kepada orang-orang Muslim di Ambon,” ujar Sa’adah mengulang kata-kata almarhum.
Hingga kini Sa’adah tidak pernah tahu dimana putra bungsunya itu dimakamkan. Namun ia mengaku ikhlas dan pasrah kepada Allah. Sebagaimana lazimnya kehilangan orang-orang terkasih, Sa’adah juga dilanda kesedihan, namun ia tak mau larut dalam duka. “Kepada-Nya kita semua akan kembali. Kalau diratapi juga tidak akan mengembalikan anak saya. Sudahlah, besok di akhirat juga kita akan bertemu.” ujarnya tabah.

Sa’adah merasa bangga dan bersyukur. Baginya, mati syahid tidak akan terjadi begitu saja. Dicari malah tidak ketemu, meski terus berperang dan berjihad. “Itu adalah takdir dan rahmat Allah,” ujarnya seraya mengisahkan panglima perang Islam, Khalid bin Walid, yang terus memburu syahid dalam perang, namun meninggal di atas tempat tidur.
Satu hal yang dipesankan Sa’adah. Jagalah lidah agar tidak mengeluarkan omongan yang tidak baik. Karena, kata Sa’adah, ucapan adalah doa.
Ia sering miris melihat orang lain mengatai anak-anaknya dengan kata-kata yang buruk ketika anak-anaknya berbuat nakal. “Saya sampai istighfar berkali-kali jika melihat hal demikian, karena saya sendiri tidak pernah mengatai anak-anak dengan sebutan yang buruk. Makanya, hati-hati kalau berkata-kata yang tidak baik pada anak-anak!” pesannya.
Sa’adah juga selalu mendidik anak-anaknya agar peduli dan berempati dengan penderitaan orang lain. Menurutnya, setiap memperoleh rezeki, kita harus sadar bahwa di situ ada hak orang lain. “Jangan eman (sayang) dalam membantu orang!” nasehat yang selalu ia sampaikan. *Chairul Akhmad/Suara Hidayatullah APRIL 2008

Kamis, 04 Oktober 2012

Liputan Khusus :Dakwah di Kaki Lawu

(investigasi Ponpes Isy Karima, Karanganyar)



Pondok Pesantren Isy Karima berdiri sejak tahun 1998. Meski masih tergolong muda, pesantren ini menjadi buah bibir karena sejumlah prestasinya. Sebagaimana nasib pesantren sehaluan, Isy Karima juga tak lepas dari pro-kontra. Namun demikian, Isy Karima terus berkembang pesat dengan berbagai trobosannya.

Lawu nampak berkabut siang itu. Di kakinya, masyarakat menggantungkan hidup pada alamnya yang subur dan indah. Tak terkeculai Karni yang mengais rezeki dari para pelancong. Ia berjualan makanan dan kopi di warung pinggir jalan raya Karangganyar-Tawangmangu. Wisatawan yang akan atau telah mengunjungi obeyek wisata Grojogan sewu biasanya mampir ke warung kecilnya.

Karni lahir dan besar di tempat ia mengais rejeki kini. Segala sesuatu yang terjadi di kampungnnya, tak banyak yang ia lupa. Masyarakat Lawu, termasuk di Kecamatan Karangpandan, tempat Karni tinggal memang cenderung hidup pas-pasan. Jika ada rumah mewah atau restoran berkelas itu adalah milik  para saudagar atau pejabat dari Surakarta dan sekitarnya. Sementara penduduk asli kebanyakan berprovesi sebagai petani atau pedagang.
Karangpandan sebagai salah satu dari 17 kecamatan di Kabupaten Karanganyar mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik. Ini karena Karangpandan masih termasuk dalam wilayah wisata yang berpusat di Kecamatan Tawangmangu. Seiring berkembangnya pariwisata, kecamatan dengan jumlah penduduk 39.766 jiwa itu juga ikut bergeliat. Dengan luas wilayah 34,11 km², Karangpandan mampu secara perlahan bangkit dari ketertinggalan yang identik dengan masyarakat di wilayah pegunungan.
Pertumbuhan wilayah di kaki Lawu itu paling terasa akhir-akhir ini. Kala masih dalam belenggu kemiskinan, kepapaan itu mau tak mau ke mempengaruhi banyak hal termasuk dalam hal keyakinan. Konon, dahulu kala masyarakat Karangpandan mayoritas adalah masyarakat “Abangan” – istilah bagi penganut aliran kejawen – yang labil. Situasi itu lantas membuat Karangpandan sebagai medan perebutan pengaruh dari sejumlah lembaga keagamaan.
Karni ingat betul tatkala sebuah lokasi peribadatan dibangun bernama El-Betel. Situs tersebut adalah tempat peribadatan sekaligus wisma. El-Betel pada awalnya diperuntukan sebagai pusat pendidikan agama di Karangpandan. Lokasinya tepat di pinggir jalan raya. Sebuah bangunan menyerupai kastil menjulang lengakap dengan ornamen khas benteng di Eropa. Di kompleks El-Betel terdapat sejumlah wisama untuk menginap, temapat peribadatan, bahkan gua-gua kecil dengan design menyerupai gua alam.
Namun demikian, Karni enggan menceritakan lebih lanjut tentang sejarah El-Betel. Ia hanya mengatakan mayoritas warga kampungya adalah muslim. “Hanya satu yang non,” tuturnya. Meski muslim, Karni menilai jika warganya dahulu belum terlalu memahami agama secara baik. Masjid pun sangat jarang apalagi pengajian rutin dan semacamnya. “Saya pake kerudung juga belum terlalu lama,” tambah Karni sembari bercanda. Ia juga menceritakan soal kerudung dan pakainnya yang biasa pun tak besar. Saat itu Karni bahkan mengenakan celana blue jeans.
Karni mulai berjilbab setelah rutin mengikuti pengajian rutin yang diadakan pesantren di dekat warungnya. Sekitar tahun 1998, pesantren itu beridiri dan Karni menjadi jamaah setianya. Meski kostum Karni cukup berbeda dengan jamaah lainnya yang berjilbab besar dan beberapa diantaranya memakai cadar, ia mengaku tetap nyaman. “Yaseperti ini lah. Yang penting nutup aurat,” ucap wanita kelahiran 1972 ini. Tidak ada keharusan di pengajian itu untuk berbusana layakanya jamaah pesantren itu secara umum. Isy Karima, demikian nama pesantren tersebut.
Keberadaan pondok pesantren Isy Karima menurut Karni sangat membawa manfaat. Para santri dan ustadznya tak hanya terkungkung di kompleks pesantren tapi juga mambaur dengan warga. Para ustadzanya sering mengisi ceramah di masjid-masjid sekitar pondok. Tak hanya itu, para santrinya juga aktif mengajar TPA bagi anak-anak kampung tak terkecuali putra putri Karni. Beberapu wanita kampung Karni bahakn diperisteri oleh ustadz pondok tersebut.
Bagi Karni sebagai seorang muslim, keberadaan pesantren itu mampu membentengi warga di kaki Lawu untuh berubah keyakinan. Ia memang tidak merasakan sendiri adanya usaha dari oknum organiasasi tertentu untuk membuatnya menanggalkan keislamannya. Namun, Karni tak memungkiri jika ada usaha semacam itu. Terlebih di kecamatan Karangpandan dan Tawangmangu kini berdiri banyak pusat-pusat keagamaan yang aktif.
Faidz Ahmad Holiz, alumni Isy Karima yang tengah menjalani program pengabdian tak menyangkal jika masih ada perebutan pengaruh di Karangpandan. Usaha itu terkadang dianggap sebatas isu. Namun bagi Faidz, kegiatan yang mengarah pada usaha berpindahnya keyakinan seseorang bukan isapan jepol belaka. “Mereka baru aktif saat hari perayaannya. Atribut mereka keluar,” tutur Faidz. Meski demikian, tidak pernah terjadi gesekan yang berarti antara Isy Karima dengan lembaga keagamaan lain. “Mereka punya strategi, kami juga punya strategi,” tambah pemuda 19 tahun ini. Uniknya, beberpa waktu lalu pihak El-Betel berniat menjual kompleksnya kepada Isy Karima. Namun, pesantren saat itu tidak memiliki dana yang cukup dan pemebelian itu tidaklah mendesak.
Strategi itu bukanlah strategi yang rumit. Isy Karima melakukannya dengan memantapkan keimanan masyarakat sekitar. Salah satunya dengan mengutus santri-santrinya membimbing TPA di wilayah sekitar pondok. Santri yang diutus adalah mereka yang telah khatam tahfidznya. Ini agar ilmu mereka mantap dan santri tak tak terganggu proses menghafalnya. Sampai saat ini kegiatan tersebut menadapat tanggapan yang baik.
Bagi Faidz, selain meberikan manfaat bagi umat, kegiatan mengajar TPA itu menjadi pembelajaran tersendiri. Ia diajarkan untuk berhadapan dengan lapangan dakwah secara langsung. Asam garam bisa dicicipi dari proses tersebut. Faidz tak mengelak jika terkadang perbedaan antara Isy Karima dengan mayoritas warga Karangpandan terkadang menui tanya. Kostum santri Isy Karima yang syari beberapa kali mengusik tanya. “Setelah kami jelaskan mereka bisa mengerti,” ucapnya. Pakaian syar’i itu malah semakin banyak dikenakan warga kini.

****
 Kaki Lawu tetaplah sejuk dan indah. Di salah satu lerengnya berdiri bangunan nan megah. Kubah disetiap atapnya memantulkan cahaya mentari yang berkilauan. Dua buah menara menjulang tinggi mendampingi sebuah masjid cantik ditengah kompleks itu. Sebuah bendera merah putih berkibar gagah ditengah halamannya yang luas. Di salah satu bangunan tersebut tertulis papan nama “Pesantren Tahfidzul Qur’an Isy  Karima”. Itulah pesantren kebanggaan Karni dan umat Islam di Kecamatan Karangpandan.
Pesantren Isy Karima berdiri sejak tahun 1998. Meski masih tergolong muda, pesantren ini telah banyak menuai prestasi dan banyak menjadi buah bibir. Sebagaimana nasib pesantren sehaluan, Isy Karima juga tak lepas dari pro-kontra. Namun demikian, Isy Karima terus berkembang pesat dengan berbagai trobosannya.
Awalnya, lokasi Isy Karima adalah persawahan dan kebun semangka di pinggir jalan raya Karanganyar-Solo. Hingga suatu saat tanah itu dibeli oleh seorang dokter kenamaan asal Solo, Tunjung. Dokter ahli ortopedi itu awalanya ingin membuat kebun itu sebagai tempat singgah tatkala ia melakoni hobinya bersepeda. Tiap libur, Tunjung secara rutin bersepeda dari hingga Tawangmangu. Untuk melepas lelah ia biasanya beristirahat di lokasi tersebut.
Singkat cerita ada seorang syeh dari timur tengah tengah berlibur ke Tawangmangu. Ia mengutarakan ingin mendirikan sebuah masjid di wilayah Karanganyar. Tunjung memandang jika akan lebih baik jika tanah pertaniannya di Karangpandan didirkan masjid. Sekitar tahun 1996, masjid tersebut akhirnya berdiri. Masjid itu adalah masjid yang kini menjadi bagian dari kompleks Isy Karima.
Siahabudin, direktur Isy Karima bercerita jika keberadaan masjid yang megah itu awalnya memperihatinkan. Seringkali fungsi masjid itu malah tak seperti seharusnya. Masjid yang luas dan indah itu hanya menjadi tempat bersinggah para pelancong. “Itu tempat ampiran orang ke toilet saja,” tutur pria yang menginjak usia 36 tahun ini. Acapkali, masjid tersebut malah menjadi tempat pasangan muda-mudi tanpa tujuan yang jelas.
Wajar kirangya keberadaan masjid tak semakmur sesuai harapan. Masyarakat setempat saat itu sangat awam agama. Mayoritas penduduk memang adalah muslim tapi sangat jarang yang memahami agama. “Saat itu di sini tak terdengar suara azan sama sekali,” kata Sihabudin. Kondisi itu lantas membuat pemilik lahan, Tunjung prihatin dan ingin agar masjid tersebut dimakmurkan.
Sekitar tahun 1998 Sihabudin bersama Narno dan Salman memulainya dengan mengajar TPA. Sekian waktu mereka mulai berwacana untuk membuat pesantren. Meski sedang gencar-gencarnya isu ninja – pembunuhan tokoh islam saat lengsernya orde baru – mereka tetap gigih dengan mimpi mendirikan pesantren. Tunjung pun mengamini.
Sejumlah pihak dari berbagai organisasi menawarkan konsep yang kiranya cocok. Ada yang mengusulkan pendirian Islamic Center. Pun ada yang menawarkan konsep pesantren layaknya Al Mukmin Ngruki. Namun Tunjung melihat beberapa konsep tersebut terlalu berat. “Pak Dokter (Tunjung, Red.) melihat konsep itu terlalu tinggi,” kata Sihabudin yang kini adalah menantu dari Tunjung ini. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan pesantren tahfidz. “Punya satu ustadz besok nyari 20 santri besok sudah bisa mulai,” tambahnya. Sihabudin sendiri saat itu telah menjadi hafidz.
Pesantren itu awalnya memiliki 16 orang santri. Dalam jenjang pendidikan pesantren, Isy Karima saat itu adalah mahad ali. Dua tahun berlalu dan Ke-16 santri itu telah menjadi hafidz. Sihabudin pun mulai bertanya mau dibawa kemana Isy Karima. “Piye, iki ilmuku wis entek, Kita mau bubar apa pulang,” candanya mengenang kala itu. Beberapa santri awal itu adalah mereka yang menjadi ustadz Isy Karima kini. Mereka akhirnya sepakat untuk membuat aliyah meski dengan pengalaman yang amat minim untuk membuat sekolah. Keyakinan bahwa mengajarkan ilmu adalah mulialah yang membuat tekat itu membulat. “Kamu mengajarkan qur’an tok, bisa 20 orang per tahun, ganjaranmu di depan Allah itu sama kaya Doktor,” tutur Sihabudin mengutip nasihat Kiainya.
Suatu hari ada seorang Syeh mampir di masjid Isy Karima. Ia bertemu dengan Sihabudin dan berbicara banyak soal Isy Karmia. Syeh tersebut menasihati Sihabudin untuk menuntu ilmu di timur tengah agar Isys Karima bisa berkembang. Yayasan juga meminta Sihabudin untuk bergegas melanjutkan pendidikannya. Berhuntung, tatkala ia diundang ke pesantren Tambak Beras, Siahabudin singgah di Jombang dan bertemu Gus Mawahid yang pensiunan KBRI Syria. Gus Mawahid memberi rekomendasi agar Sihabudin bisa belajar di timur tengah. Sihabudin akhirnya bisa melanjutkan belajarnya ke Damaskus.
Kondisi Isy Karima yang untuk sementara Sihabudin tinggal semakin memburuk. Santri Isy Karima mencapai 50 orang namun kurang terurus. Beberapa ustadz juga memilih untuk mengajar di tempat lain. Hingga akhirnya dua tahun berlalu dan Sihabudin pun sampai di tanah air. Mengingat kondisi yang demikian yayasan mengangkatnya sebagai mudir (kepala pesantren).
Butuh sekitar dua tahun untuk membuat Isy Karima setabil. Meski tanpa kejelasan konsep di awal, dengan belajar sembari berjalan, Isy Karima menemukan sistemnya sendiri. “Dulu membuat surat saja kita tidak bisa,” tutur lulusan pesantren Karang Asem, Lamongan ini. Segenap pengurus Isy Karima pun rajin mengikuti pelatihan dan seminar mengenai manajemen pengelolaan pendidikan.
Menginjak usia kedelapan, Isy Karima telah matang dan di tahun kesembilan mereka mulai mengembangkan sayap. Proses tersebut relatif cepat karena jajaran Isy Karima adalah satu akantan yang kompak. “Dulu tidak terkonsep menjadi konsep.  Itulahasbabul nuzul,” ujar Sihabudin. Di tahun itu juga lulusan Isy Karima mampu menembus untuk belajar di timur tengah. Beberapa dari mereka melanjutkan di Arab Saudi yang bermahzab wahabi. Sebagian lainnya belajar di Syria yang dikenal berhaluan Syafii. “Ada yang bertanya ini pesantren apa? Kiblatnya kemana? ya kiblatnya ke kabah,” canda ayah dua anak ini. Sihabudin juga menegaskan jika Isy Karima itu netral.
Sekitar tahun 2008 sejumlah ustadz Isy Karima berkesempatan menunaikan ibadah haji. Saat itulah Isy Karima mulai menjalin hubungan yang serius dengan para Syeh timur tengah. Kala itu, Isy Karima juga berkesempatan menjadi anggota dari lembaga tahfidz internasional yang berpusat di Jedah. Oragniasasi itu bernggotakan 60 negara. Isy Karima mendapat banyak akses untuk mengenal pesantren-pesantren tahfidz dari seluruh dunia. Hubungan itu membuka kesempatan bagi santri Isy Karima untuk mendapat beasiswa ke timur tengah. Tak hanya itu, Sihabudin dan rekannya juga bisa membangun relasi dengan para syeh yang berpengaruh.
Perkembangn Isy Karima yang begitu pesat tak hanya menguntungkan bagi lembaga tapi juga masyarakat sekitar pondok. Tiap hari Minggu, Isy Karima mengadakan pengajian bertajuk Ahad Pagi. Jamaah yang hadir ratusan dari sekitar Surakarta tak terkecuali warga Karangpandan. Dalam pengajian itu Isy Karima juga memberikan bantuan bagi jamaah yang kurang mampu. Harapannya adalah agar masyarakat lebih kuat keislamannya.
Disinggung soal isu kristenisasi yang marak di sekitar kaki Lawu, Sihabudin menyiratkan jika tak ada yang perlu dihawatirkan. Meski banyak pusat lembaga Kristiani di sekitar Karangpandan, itu tak membawa dampak yang signifikan bagi umat. “Di depan ada (umat Kristiani, Red.) yang berjualan. Tidak jauh dari sini juga ada El-Betel,” katanya. Tidak pernah terjadi konflik baik dengan umat maupun lembaga agama lain. Isy Karima lebih fokus untuk memperbaiki umat Islam.
Sihabudin juga menyayangkan terjadinya konflik yang seringkali mengandalkan kekerasan dalam menghadapi perbedaan keyakinan. Baginya, akan lebih baik jika umat Islam lebih fokus dalam meningkatkan derajatnya daripada berlaku reaktif. “Rosululah saja hidupnya berdampingan dengan orang yahudi kok,” tuturnya. Ia justru mengingatkan jika mungkin saja isu keagamaan bersifat politis. “Ya kalau diladeni kita capek sendiri,” tambah Sihabudin. Ia menyaran jika persoalan seperti itu lebih baik diselesaikan secara prosedural.
Kedekatan Isy Karima dengan timur tengah menjadi musabab isu yang mengaitkannya dengan terorisme. Bagi Sihabudin tuduhan tersebut mengada-ada. Menurutnya para syeh yang menjadi panutan Isy Karima adalah ulama yang tak sepakat dengan faham terorisme. “Masayeh yang dari Saudi itu semuanya anti terorisme,” pungkas Sihabudin.
Fauzul Mubin, ustadz sekaligus humas Isy Karima mengaku jika tuduhan yang mengaitkan Isy Karima dengan terorisme memang beberapa kali terjadi. Pernah suatu saat Isy Karima dituduh memiliki bunker (ruang bawah tanah). Piahak intelejen mengatakan bahwa dari pengindraan satelit terdapat ruang semacam bunker di kompleks Isy Karima. “Bangunan kita itu berada di tanah yang menurun. Kalau diratakan berapa duit kita mesti keluar?” kata Fauzul. Sebagian besar bangunan Isy Karima memang menurun. Jika dilihat dari depan nampak seperti bangunan satu lantai tapi sebenarnya empat tingkat  kebawah.
 Pada suatu kesempatan masjid Isy Karima disinggahi rombongan anggota Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Mereka sekedar mendirikan solat. Namun, kepolisian menilai jika Isy Karima tengah menyiapkan aksi terorisme. Akhirnya sejumlah intel mencoba masuk namun dengan tegas Isy Karima menolak. “Ini wilayah kami kok,” ujar pria 32 tahun ini. Kepolisian juga pernah menuduh ada 10.000 mujahid tengah melakukan rapat di Isy Karima. “Saya telfon mereka (Polisi, Red.) untuk segera datang. Logikanya nggakmungkin 10.000 orang bisa bubar dalam hitungan menit,” tambah Fauzul.
Kejadian paling unik menurut Fauzul adalah ketika Isy Karima dituduh memiliki peluncur roket. Pihak keamanan menuduh Isy Karima menjadi markas dari rencana aksi terorisme. “Padahal itu rock climbing (papan panjat dinding),” kenang Fauzul sembari tertawa terbahak. Tuduhan polisi kepada Isy Karima terkait terorisme seriang mengada-ada dan tak pernah terbukti. “Saya ngobrol sama komandan Polisi. Saya ngomong mbok kalo punya intel itu disekolahin dulu biar pinter,” canda sosok jenaka kelahiran Magelang ini.
****
Pipin Ardiana tengah menunggui dagangannya. Ia menghadap komputer menghitung labanya hari itu. Toko Na’imah yang ia jaga menyediakan camilan, minuman, hingga baju muslim dan buku-buku mengenai Islam. Tepat di sebrang jalan, berdirilah El-Betel, wisma dan temapt beribadah umat kristiani. Menurut Pipin, El-Betel ramai jika hari libur. Banyak acara keagamaan yang diadakan di tempat yang telah berdiri pulahan tahun lalu ini.
elbetel
Letak El-Betel hanya terpaut sekitar 20 meter dari Isy Karima. Namun, menurut Pipin keduanya melakukan kegiatan sendiri-sendiri tanpa adanya masalah. Meski tokonya menjual peralatan muslim, Pipin mengaku jika banyak pengunjung El-Betel yang berbelaja. “Mereka membeli makanan dan minuman,” tutur remaja 17 tahun ini. Pemiliki toko Na’imah yang pipin jaga juga jamaah pengajian di Isy Karima. “Tidak pernah terjadi hal yang macem-macem,” tambah Pipin.
Wilayah Karanganyar, khususnya Kecamatan Karangpandan terhitung cukup kondusif. Meski cukup beragam, masyarakat Karangpandan mampu dewasa dalam menyikapinya. Hal itu juga diakui oleh Parman, salah seorang polisi yang bertugas di Polres Karangpandan. Menurut Parman, tidak pernah terjadi gangguan kemanan yang serius di wilayah tugasnya. “Karangpandan aman terkendali,” tuturnya.
           Ketika disinggung ihwal Isy Karima, Parman berkisah jika selama puluhan tahun bertugas di Karangpandan ia tak pernah mendapati laporan yang negatif. Ia juga sempat beberapa kali ditugasi untuk berjaga di Isy Karima. “Kalau ada acara-acara besar kami ikut mengamankan,” kata pria asli Pacitan, Jawa Timur ini. Menurutnya Isy Karima juga pro-aktif terhadap kepolisin. Tiap kali mengadakan kegiatan, Isy Karima selalu mengajukan surat izin.


Diterbitkan di Majalah Isra', Pusham UII

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More